Analisis Tingkat Kerentanan (Vulnerability) Kota Palu Terhadap Risiko Bencana Gempa Bumi

Posted on August 14, 2011

0



Pada tulisan ini saya akan mencoba memaparkan hasil dari penelitian tugas akhir dari teman kuliah saya mengenai Analisis Tingkat Kerentanan (Vulnerability) Kota Palu Terhadap Risiko Bencana Gempa Bumi. Paparan ini hanya secara singkat mengurai sebagian kecil dari hasil penelitian tugas akhir teman saya, pada tulisan ini kami hanya memberikan hasil penelitian pada bab analisis dan kesimpulan dari hasil penelitian tugas akhirnya pada link download di bagian bawah postingan ini, untuk lebih jelasnya dan ada yang ingin di tanyakan langsung silahkan menghubungi langsung penulisnya Muhammad Farid Isra Aprilyansyah

Metode penilaian kerentanan pada tulisan ini menggunakan metode EDRI (The Earthquake Disaster Risk Index) yang dikembangkan oleh Rachel Davidson. Metode tersebut bertujuan menghitung tingkat risiko bahaya gempa bumi dengan memperhitungkan faktor hazard/bahaya, exposure/kedekatan, vulnerability/kerentanan, External context/faktor eksternal, dan emergency response and recovery capability/ketahanan. Dalam tulisan ini, penulis hanya menghitung salah satu faktor risiko bencana yaitu faktor kerentanan. Dalam jurnal yang berjudul An Earthquake Risk Index (1997), Rachel Davidson menghitung tingkat risiko bencana gempa bumi di beberapa kota besar di dunia diantaranya adalah Jakarta, Boston, Manila, San Fransisco, Tokyo, dll.

Perumusan indikator dan subfaktor kerentanan berdasarkan literatur. Kerentanan terbagi atas tiga sub-faktor yaitu:

1) Kerentanan fisik dengan tiga indikatornya yaitu: persentase kawasan terbangun, persentase bangunan semi permanen serta persentase kepadatan bangunan.

2) Kerentanan sosial dan kependudukan dengan empat indikatornya yaitu: kepadatan penduduk, persentase laju pertumbuhan penduduk, persentase penduduk usia lanjut dan balita serta persentase penduduk wanita.

3) Kerentanan ekonomi dengan dua indikator yaitu persentase penduduk miskin serta pekerja yang bekerja di sektor pekerjaan non pertanian.

Perhitungan nilai sub faktor dengan menjumlahkan seluruh hasil perkalian nilai baku indikator dengan bobotnya. Pembobotan dilakukan untuk menghasilkan nilai kerentanan karena setiap faktor, sub faktor dan indikator mempunyai kontribusi yang berbeda-beda terhadap bencana. Menurut Rachmat Suganda (2000), kerentanan fisik dan kerentanan sosial kependudukan bernilai sama yaitu 0,4 dan kerentanan ekonomi bernilai 0,2. Peneliti akan menggunakan pembobotan ini dalam menentukan tingkat kerentanan Kota Palu.

Pengungsian Baru

Pembobotan yang dilakukan berdasarkan penilaian subyektif seorang peneliti, sehingga pembobotan indikator kerentanan disesuaikan dengan besarnya pengaruh indikator tersebut terhadap tingkat kerentanan
Kerentanan fisik dan kerentanan sosial kependudukan mempunyai bobot yang sama dan jauh lebih besar dari bobot kerentanan ekonomi karena keselamatan manusia lebih penting dibanding kerugian materi. Pada sub faktor kerentanan fisik, indikator kawasan terbangun memiliki bobot yang lebih besar karena indikator kawasan terbangun mempengaruhi besarnya kawasan yang terkena bencana. Pada sub faktor kerentanan sosial kependudukan, seluruh indikator memiliki bobot yang sama karena seluruh indikator memiliki pengaruh yang sama terhadap tingkat kerentanan. Pada sub faktor kerentanan ekonomi, indikator penduduk miskin dan tenaga kerja di sektor non pertanian memiliki bobot yang sama karena memberi pengaruh yang sama terhadap tingkat kerentanan.

Berdasarkan penjumlahan masing-masing faktor kerentanan yang dibobotkan yaitu faktor fisik, sosial kependudukan serta faktor ekonomi didapatkan nilai tingkat kerentanan. Kemudian dilakukan perhitungan untuk membagi nilai interval (nilai tertinggi – nilai terendah) menjadi tiga bagian yaitu tinggi, sedang dan rendah. Dengan demikian akan didapatkan wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat dibuat Peta Kerentanan Kota Palu.

Menentukan tinggi rendahnya nilai kerentanan dengan menentukan kelas interval (rendah, sedang dan tinggi). Langkah-langkah menentukan kelas interval menurut Sugiyono (2003) ialah sebagai berikut:

a) Menetapkan jumlah klas interval sebanyak tiga kelas.

b) Menghitung rentang data yaitu data terbesar dikurangi dengan data terkecil.

c) Menghitung penjang kelas yaitu rentang data dibagi jumlah kelas.

d) Menyusun interval klas
Setelah diketahui tingkat kerentanan wilayah Kota Palu dapat dirumuskan arahan tindakan berdasarkan sifat dan karakteristik daerah tersebut. Metode yang digunakan dalam menurunkan tingkat kerentanan bencana gempa bumi adalah sebagai berikut:

a. Menentukan indikator-indikator yang mempengaruhi tingginya tingkat kerentanan pada wilayah yang rentan, sehingga indikator tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arahan dalam mengurangi tingkat kerentanan.

b. Kerentanan suatu wilayah terhadap bencana gempa bumi berhubungan dengan karakteristik wilayah tersebut. Perencanaan tata guna lahan akan menentukan karakteristik wilayah tersebut di masa yang akan datang, sehingga arahan menurunkan tingkat kerentanan ditentukan dengan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kawasan tersebut dengan tingkat kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana gempa bumi. Dengan demikian pengembangan suatu wilayah akan berbanding lurus dengan kesiapan wilayah tersebut baik secara fisik maupun kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi.
Gambar diatas merupakan hasil analisis berupa peta lokasi pengungsian

Peta arahan kerentanan

Gambar diatas merupakan peta arahan kerentanan

Untuk memperoleh hasil penelitian Analisis Tingkat Kerentanan (Vulnerability) Kota Palu Terhadap Risiko Bencana Gempa Bumi silahkan klik link dibawah ini untuk mendownload file dalam bentuk pdf

link bab analisis

link bab kesimpulan

Posted in: Literature